Wisata Jagat Raya di Observatorium Bosscha Lembang

Ada sebuah tempat di sebelah utara Bandung,  yaitu sebuah tempat yang digunakan untuk mengamati benda benda luar angkasa dikenal dengan nama teropong bintang bosscha. Berada di lembang Jawa barat sehingga “teropong bintang bosscha” sering dikenal juga dengan Teropong bintang lembang.
 Dengan hawa yang sejuk, lokasinya yang cukup tinggi dengan luas area 6 hektar berada di ketinggian 1310 m dari permukaan laut menjadikan tempat ini cocok sebagai tempat untuk mengamati langit.  Sejak tahun 2004 teropong bintang bosscha resmi dijadikan cagar budaya berdasar UU Nomor 2/1992 tentang Benda Cagar Budaya oleh pemerintah. Pada tahun 2008 tempat ini ditetapkan pemerintah sebagai salah satu objek vital nasional yang perlu diamankan.
SEJARAH OBSERVATORIUM BOSSCHA ( Teropong Bintang Bosscha )
Teropong bintang bosscha dibuat pada Awal abad 20 atas gagasan Joan George Gijsbertus Voute dan dukungan sahabatnya  Karel Albert Rudolf Bosscha dan Rudolf Albert Kerkhoven. Pada waktu itu teropong bintang hanya terkosentrasi di Belahan utara bumi terutama di Eropa dan Amerika teimur. Sehingga Pembuatan teropong bintang di belahan selatan bumi diperlukan untuk keperluan penelitian astronomi. Pada tahun 1921 Karel Albert Rudolf Bosscha atau Bosscha membayar sebuah teleskop dari Jerman yang berkualitas baik dengan harga yang murah karena jatuhnya nilai tukar mata uang jerman. Teleskop tersebut memiliki diameter 60 cm dengan panjang fokus 10 meter. Kontruksi bangunan observatorium ini dimulai tahun 1923 dan mulai digunakan pada tahun 1925 untuk pengamatan. Waktu yang diperlukan untuk melakukan membuat dan mengantarkan lensa memerlukan waktu tujuh tahun waktu yang cukup lama memang. Untuk melakukan kalibrasi teleskopnya saja memerlukan waktu 2 tahun. Saat perang dunia ke II kegiatan obsevatorium dihentikan dan dapat dibuka kembali setelah perang berakhir. Perang dunia ke II menyebabkan tempat ini rusak dan harus di renovasi ulang. Hingga akhirnya Observatorium ini diserahkan kepada pemerintah RI pada tanggal 17 Oktober 1951 dan menjadi bagian dari ITB. Sejak saat itu pula tempat ini dijadikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal Astronomi Indonesia.
Ada 5 buah teleskop yang berukuran besar  yang dapat kita jumpai yaitu :
Teleskop Refraktor Bamberg

 Teropong Bamberg memiliki diameter lensa 37 cm serta panjang panjang fokus 7 m teropong refraktor. Teropong ini unik Terletak disebuah gedung dengan atap setengah silinder yang atapnya dapat digeser dan bisa  bergerak maju atau mundur untuk membuka atau menutup. Jangkauan teleskop ini cuma terbatas sebagai alat pengamatan benda banda langit yang berjarak zenit 60 derajat, atau untuk mengamati benda langit yang lebih tinggi dari 30 derajat dan azimut pada sektor Timur-Selatan-Barat.  Teropong Bamberg baru selesai diinstalasi pada awal tahun 1929 , Teleskop ini juga sudah dilengkapi kamera CCD. Teleskop bemberg biasanya digunakan untuk menentukan skala jarak, menera terang bintang,  mengamati citra kawah bulan, mengukur fotometri gerhana bintang, mengamati matahari, dan juga digunakan untuk mengamati benda benda langit lainnya.

Teleskop Schmidt Bima Sakti
Teleskop in memiliki optik Schmidt jadi sering disebut dengan Kamera Schmidt. Lensa koreksi Teropong  Schmidt  berdiameter 51 cm dengan diameter cermin 71 cm, serta panjang fokus 127 cm. Teleskop Schmidt berfungsi untuk mempelajari struktur galaksi Bima Sakti, mengamati asteroid, spektrum bintang,  supernova, memotret objek di langit. Teleskop ini dilengkapi dengan prisma pembias dengan sudut prima 6,10, untuk mendapatkan spektrum bintang.

Teleskop Refraktor Ganda Zeiss
Teleskop ini memiliki Diameter teleskop utama 60 cm dan panjang fokus hampir 11 m bagian teleskop pencari memiliki diameter 40 cm. Kegunaanya antara lain untuk proses kegiatan pengamatan astrometri, khususnya untuk mendapatkan orbit bintang ganda visual. Teleskop ini juga dimanfaatkan sebagai alat pengamatan gerak diri bintang dalam gugus bintang, mengukur paralak bintang untuk menentukan jarak bintang. dengan CCD teleskop ini juga biasa dipakai untuk mengamati planet dan komet.
Teleskop Cassegrain GOTO
Teleskop ini termasuk jenis reflektor Cassegrain yang memiliki diameter cermin utama 45 cm berbentuk parabola serta mempunyai panjang fokus 1,8 m dengan cermin sekunder dengan bentuk hiperbola dan panjang fokus 5,4 m. Teleskop ini Cassegrain GOTO didapat dari bantuan kementrian luar negeri Jepang  pada tahun 1989 melalui progam ODA (Overseas Development Agency), Ministry of Foreign Affairs. Menggunakan teropong Cassegrain GOTO Objek bisa langsung diamati hanya dengan memasukan data posisi objekk tersebut dan data dari hasil pengamatan akan masuk ke media penyimpanan secara otomatis. Teleskop ini bisa juga difungsikan untuk mengukur intensitas cahaya bintang dan pengamatan sprektum bintang.
Teleskop Refraktor Unitron
Teleskop Unitron termasuk teropong refraktor yang dilengkapi lensa obyektif dengan diameter 102 mm serta panjang fokus 1500 mm.  Ukuran teropong yang kecil dan ringan, membuat Teropong Unitron baik untuk mengamati matahari dan juga bulan. Teropong ini mudah dibawa dan sudah beberapa kali digunakan saat ekspedisi mengamati gerhana matahari total dan juga sering dipakai untuk mengamati hilal, serta memotret bintik matahari dan benda langit lain.
Teleskop Surya dan Teleskop radio 2,3m
Teleskop surya adalah teleskop Matahari sedangkan Teleskop Radio 2,3m merupakan instrumen radio jenis Small Radio Telescope ( SRT ).  Teleskop radio dapat bekerja pada panjang gelombang 21 cm atau dalam frekuensi 1400-1440 MHz. Teleskop ini bisa dipakai untuk  pengamatan obyek yang jauh seperti ekstragalaksi dan kuasar.
Sekarang Observatorium Bosscha tidak lagi digunakan sebagai lokasi pengamatan astronomi. Selain karena faktor demografi penduduk yang semakin banyak, juga untuk menjadikan tempat ini sebagai salah satu ikon sejarah Indonesia.
Kunjungan yang ditawarkan di tempat ini adalah kunjungan siang, kunjungan malam, dan kunjungan malam khusus. Hari minggu dan hari libur nasional Teropong bintang  bossch tutup. Saat sebelum sampai sesudah lebaran dan tahun baru tempat ini juga tutup. Pada hari senin juga tidak ada yang berkunjung karena hari senin biasa digunakan untuk perawatan teropong dan instrumentasi. Untuk harga tiket masuk berkisar antara 5.000 sampai 10.000. Jangan lewatkan tempat ini jika anda memang ingin melihat berbagai keindahan langit.

Category : News Posted on March 2, 2013

Leave a Reply


6 − three =