Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda : Suasana Pegunungan di Daerah Perkotaan

Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda : Suasana Pegunungan di Daerah Perkotaan

Apakah anda mencari suasana yang berbeda dengan hari kerja? Jika anda berkunjung ke kota Bandung pada akhir minggu maka datanglah ke Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda. Tahura yang dikonsepkan menjadi daerah konservasi alam ini berada sekitar ± 7 km di sebelah utara Kota Bandung. Tahura terhampar luas mulai dari kawasan Dago Pakar hingga kawasan Lembang dan Maribaya. Di Tahura kita akan menjumpai beberapa tempat yang memberikan pengalaman berbeda-beda, karena kita bisa menjumpai arena bermain, gua, hingga air terjun. Jika diurut dari awal, tempat-tempat yang bisa kita kunjungi di taman hutan seluas ± 526,98 hektare ini, yaitu Curug Dago dan batu prasasti kerajaan Thailand, panggung terbuka, kolam PLTA Bengkok, monumen Ir. H. Djuanda dan pusat informasi (museum mini) tahura, taman bermain, Goa Jepang, Goa Belanda, Curug Lalay, Curug Omas Maribaya, Panorama Alam Hutan Raya, jogging track ke Maribaya, dan Patahan Lembang.

Di antara tempat-tempat yang ada di tahura, tempat yang paling banyak dikunjungi oleh para wisatawan biasanya adalah Goa Jepang dan Goa Belanda, karena cukup dekat dijangkau dengan berjalan kaki. Goa Jepang berada sejauh ± 600 meter dari pintu masuk Dago Pakar. Goa buatan yang dibangun pada tahun 1942 ini cukup unik karena memiliki empat pintu yang saling terhubung di dalam kecuali pada pintu kedua yang dimaksudkan sebagai pintu pengecoh. Dulu goa dengan panjang ± 70 m ini merupakan tempat perlindungan sekaligus pusat pertahanan Jepang di Bandung utara. Di dalamnya, terdapat empat buah kamar yang dulunya dipakai istirahat panglima tentara Jepang. Untuk menelusuri ke dalam Goa ini, anda biasanya akan diminta menyewa sebuah senter seharga tiga ribu rupiah dan anda juga akan dipandu oleh pemandu. Walaupun gelap, Goa Jepang tidak terkesan angker karena Goa ini cukup bersih dan ramai dimasuki pengunjung. empat ratus meter selanjutnya anda akan bertemu dengan Goa Belanda yang berukuran lebih luas dari pada Goa Jepang. Goa peninggalan Belanda yang dibangun pada 1941 ini dulu digunakan sebagai terowongan PLTA Bengkok.

Kawasan Dago Pakar dianggap sangat menarik, karena selain kawasannya yang terlindung, tempat ini juga dekat dengan pusat Kota Bandung. Makanya, pada awal perang dunia II tahun 1941, Militer Hindia Belanda membangun stasiun radio telekomunikasi. Bangunan itu berupa jaringan goa di dalam perbukitan batu pasir tufaan. Saat perang memuncak, goa ini berfungsi sebagai pusat komunikasi rahasia tentara Belanda, sedangkan pada masa kemerdekaan dimanfaatkan sebagai gudang mesiu.

Lokasi wisata selanjutnya adalah Curug Lalay, Curug Omas, dan patahan Lembang, yang lokasinya cukup jauh. Curug Lalay dan Curug Omas Maribaya kedua-duanya mengalir di Sungai Cikapundung.

Tersedia pula pusat informasi tahura jika anda ingin mengetahui lebih lanjut mengenai tempat ini lho…..  Anda hanya perlu mengunjungi museum mini yang berisi sedikit kilasan sejarah Ir. H. Djuanda yang tergambar pada foto-fotonya dan beberapa peninggalan penghargaan dan medali milik beliau. Selain itu, juga terdapat profil flora dan fauna yang ada di Tahura. Di sebelah luar pusat informasi, kita akan diajak melihat patung Ir. H. Djuanda, sang Perdana Menteri pertama Republik Indonesia yang namanya diabadikan sebagai nama Taman Hutan Raya di kawasan Dago Pakar ini.

Nah jika suatu anda dan keluarga mencari tempat yang tenang untuk refreshing, dengan konsep pegunungan dan juga family outbound, maka tahura dapat menjadi alternatif utama pilihan anda. Aksesibilitas menuju tempat ini cukup mudah. Karena ukurannya yang luas, kawasan ini memeiliki beberapa akses masuk, yaitu pintu masuk utama di Dago Pakar, pintu masuk Kolam Pakar di PLN Ciburial, dan pintu masuk Maribaya di Lembang. Semua jenis kendaraan dapat mencapai pintu gerbang dengan kondisi jalan beraspal hotmix yang cukup baik. Tetapi, apabila anda memilih untuk naik kendaraan umum, maka pilihlah angkot yang menuju terminal Dago. Setelah berhenti di terminal Dago, anda bisa memilih untuk berjalan kaki sejauh ± 3 km atau naik ojek seharga Rp 5.000. Selanjutnya, anda akan dikenai ongkos masuk sebesar Rp 8.000 per kepala dan suasana hutan pinus yang sejuk akan menyambut anda.

Paket Wisata :

  1. Paket Pendidikan
  2. Paket Keluarga
  3. Paket Petualangan

Konservasi :

  1. Persemaian
  2. Pengkayaan Tanaman
  3. Pengembangan Koleksi Flora
  4. Keanekaragaman Fauna
  5. Keanekaragaman Flora
  6. Jenis Tanaman Obat

Fasilitas :

  1. Panggung Terbuka
  2. Taman Bermain Anak-anak
  3. Sarana Outbound dan Flying Fox
  4. Saung dan Tempat Persinggahan
  5. Lapangan Olahraga

 

 

Incoming search terms for the article:

dago pakar

Category : News Posted on February 23, 2013

Leave a Reply


+ seven = 14